penerapannya jauh dari pidato2 para pemimpin yg melanjutkan tampuk kepemimpinan setelah yg pertama....
pelajaran sejarah yg seharusnya mampu mendidik anak bangsa agar bisa memahami nilai2 yg terkadung dalam pancasila itu selalu di abaikan oleh mereka2, bagi mereka yg lebih penting adalah bagaimana memelihara jabatan mereka,
menilik dari teory ashabiyahnya ibnu khaldun sekarnglah saatnya indonesia di pimpin oleh generasi penghancur, yg sama sekali telah melupakan sejarah perjuangan para pahlawannya...
Menurut Ibnu Khaldun, negara timbul dari sifat manusia yang makhluk sosial. Artinya, manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri untuk melangsungkan kehidupan. Oleh karena itu, manusia memerlukan kerjasama dengan manusia lainnya. Selanjutnya dari kerjasama tersebut, lahirlah suatu organisasi kemasyarakatan.
Setelah terbentuknya organisasi kemasyarakatan, maka masyarakat yang berada dalam organisasi tersebut membutuhkan sesorang tokoh untuk menjadi penengah dalam mayarakat tersebut. Hal itu diperlukan untuk menjaga anggota masyarakat dari gangguan dari masyarakat yang lainnya dalam berbagai hal. Dan hendaknya orang yang menjadi penengah adalah orang yang berpengaruh, berwibawa, dan mempunyai otoritas dalam masyarakatnya, sehingga fungsi sebagai penengah dan pelindung bagi masyarakat bisa terwujud. Menurut Ibnu Khaldun, sosok itu ada pada diri seorang raja atau kepala negara.
Dalam konteks kekinian,‘a s ha biya h dalam hal kenegaraan, bisa pula diartikan sebagai nasionalisme atau patriotisme, sehingga tidak heran jika sangat berpengaruh terhadap eksisitensi Negara itu sendiri. Teori siklus yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun memberi gambaran bahwa Negara itu muncul, berkembang, mundur, dan akhirnya hancur, mempunyai fase-fase yang tertentu dalam rentang waktu sekitar seratus tahun. Dalam rentang waktu tersebut Negara mengalami lima fase perkembangan:
1.Fase penaklukan, dengan cara merebut dan menguasai dari pemimpin yang sebelumnya.(‘as ha biya h masih kuat)
2.Fase pembinaan, kondisi masyarakat telah berubah dari tradisi al badawah ke al hadarah dan tunduk kepada penguasa.Kekuasaan cenderung terpusat pada seorang penguasa.(‘ashabiyah sudah mulai berkurang kekuatannya).
3.Fase kejayaan, negara mencapai tingkat kemajuan yang tinggi,dan hidup mewah. (Tahap ini ‘ashabiyah telah melemah, dan tidak dibutuhkan lagi oleh penguasa karena sudah merasa kuat).
4. Fase kemunduran, para pemimpin pada tahap ini terdiri tas orang-orang yang kurang kreatif hanya menerima dan mengikuti penguasa sebelumnya.
5.Fase kehancuran, negara telah memasuki masa tua. Pada masa ini penguasa suka hidup berfoya-foya dan menghamburkan kekayaan. Negara telah hancur secara ekonomis dan politis karena‘a s ha biya h telah sirna dan tidak ada sumber ekonomi yang kuat.
dari kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa saat ini negara kesatuan repulik indonesia tercinta ini sedang masuk pada fase ke-5 dan itu terbukti bahwa negara kita sedang mengalami krisis dalam berbagai lini.
kurangnya pemahaman generasi penerus akan nilai2 yg terkandung dalam dasar filosofi negara juga merupakan dampak dari kehilangan arah jalur pemikiran para pemimpinnya ke hal - hal yg sifatnya produktif, yang hanya mampu memikirkan bagaimana mempertebal kantong dan mengisi perut mereka sendiri, sehingga saat ini kita sebagai generasi penerus hanya mampu menggigit jari ketika melihat kehancuran yg terjadi dimana - mana, tanpa bisa memberikan sumbangsih pemikiran.
bersambung..........
marwan galle ardath... :)
BLOG INI ADALAH SALAH SATU WADAH BAGI GENERASI MUDA WERA MATARAM WATI SI NDAI COU WALI
CIRI KHAS NDAI DOU WERA
SELAMAT DATANG DI BLOG KOMUNITAS DOU WERA ..KAMANE..
KAMANE ADALAH CIRI KHAS ORANG WERA
JADI KAMANE PERLU KITA LESTARIKAN LENGA DOHOE
KARENA ITU MERUPAKAN BAGIAN DARI ADAT DAN BUDAYA KITA.......
WATI SI NDAI COU WALI
KAMANE ADALAH CIRI KHAS ORANG WERA
JADI KAMANE PERLU KITA LESTARIKAN LENGA DOHOE
KARENA ITU MERUPAKAN BAGIAN DARI ADAT DAN BUDAYA KITA.......
WATI SI NDAI COU WALI
Jumat, 03 Juni 2011
Jumat, 06 Mei 2011
Antusias, Hasrat dan Tata Krama
Dua hal ini merupakan ibu yang
melahirkan sukses. Antusias dan hasrat
dapat mendatangkan uang, kekuatan dan
pengaruh. Hal besar tak akan dapat
dicapai tanpa antusias.
Yakin selalu pada apa yang kita
kerjakan. Kerjakan tiap pekerjaan
dengan penuh cinta. Masukan antusias
dalam pribadi , maka ia akan
menciptakan hal yang luar biasa buat.
Tata Krama
Tingkah laku, kesopanan dan kebaikan
bisa membuat orang lain percaya pada
kita. Tata krama yang baik akan membuat
orang lain merasa nyaman dengan kita.
Tata karma merupakan sumber kesenangan,
memberikan rasa aman, dan ini dilakukan
dengan menunjukan penghormatan pada
oran lain.
Bersikap sopanlah pada setiap orang
yang anda kenal, tidak peduli status
dan kedudukan mereka. Perlakukanlah
setiap orang dengan tata krama.
Nah, bagaimana, tidak sulit bukan? :-)
Nantikan tulisan saya yg lain minggu depan! :-)
Sampai ketemu nanti!
melahirkan sukses. Antusias dan hasrat
dapat mendatangkan uang, kekuatan dan
pengaruh. Hal besar tak akan dapat
dicapai tanpa antusias.
Yakin selalu pada apa yang kita
kerjakan. Kerjakan tiap pekerjaan
dengan penuh cinta. Masukan antusias
dalam pribadi , maka ia akan
menciptakan hal yang luar biasa buat.
Tata Krama
Tingkah laku, kesopanan dan kebaikan
bisa membuat orang lain percaya pada
kita. Tata krama yang baik akan membuat
orang lain merasa nyaman dengan kita.
Tata karma merupakan sumber kesenangan,
memberikan rasa aman, dan ini dilakukan
dengan menunjukan penghormatan pada
oran lain.
Bersikap sopanlah pada setiap orang
yang anda kenal, tidak peduli status
dan kedudukan mereka. Perlakukanlah
setiap orang dengan tata krama.
Nah, bagaimana, tidak sulit bukan? :-)
Nantikan tulisan saya yg lain minggu depan! :-)
Sampai ketemu nanti!
Kamis, 28 April 2011
SEJARAH HPMW Mataram
I. APA ITU HPMW ?
istilah organisasi sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. Namun apakah anda tahu definisi dari kata organisasi itu sendiri?
Organisasi berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat. Pengertian organisasi telah banyak disampaikan para ahli, tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsip, dan sebagai bahan perbandingan akan disampaikan beberapa pendapat sebagai berikut :
1. Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya “The Executive Functions” mengemukakan bahwa : “ Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih” (I define organization as a system of cooperatives of two more persons)
2. James D. Mooney mengatakan bahwa : “Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose” (Organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama)
3. menurut W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, organisasi adalah susunan dan aturan dari berbagai-bagai bagian (orang dsb) sehingga merupakan kesatuan yang teratur.
Dari beberapa pengertian organisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap organisasi harus memiliki empat unsur dasar, yaitu :
a. Adanya sekelompok orang yang saling bekerjasama
b. Adanya tujuan yang sama
c. Adanya bentuk / struktur
d. Adanya aktivitas
Dengan demikian organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki.
Organisasi formal memiliki suatu struktur yang terumuskan dengan baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoritasnya, kekuasaan, akuntabilitas dan tanggung jawabnya. Struktur yang ada juga menerangkan bagaimana bentuk saluran-saluran melalui apa komunikasi berlangsung. Kemudian menunjukkan tugas-tugas terspesifikasi bagi masing-masing anggotanya. Hierarki sasaran organisasi formal dinyatakan secara eksplisit. Status, prestise, imbalan, pangkat dan jabatan, serta prasarat lainya terurutkan dengan baik dan terkendali. Selain itu organisasi formal tahan lama dan mereka terencana dan mengingat bahwa ditekankan mereka beraturan, maka mereka relatif bersifat tidak fleksibel. (J Winardi, 2003:9)
HPMW merupaka sekumpulan pelajar dan mahasiswa wera yang mempunyai tujuan yang sama
II. MENGAPA HPMW berdiri
Karena kegelisahan kawan-kawan mahasisa wera yang menganggap keberadaan pelajar dan mahasiswa belum memberikan kontribusi yang berarti untuk meningkatkan kemampuan, keilmuan, keterampilan pada diri mereka dan kawan-kawan mereka serta orang wera pada umumnya serta tatanan kehidupan civitas yang ada di mataram secara social . Beberapa hal yang bisa digambarkan tentang :
1. Social
2. Pengetahuan tentang perilaku
3. Simpati
4. Pencapaian tujuan yang inginkan
5. Kesempatan berkreasi
6. Komunikasi dan informasi
III. KAPAN HPMW berdiri
HPMW berdiri pada tahun 1994-1995
IV. SIAPA yang menjadi anggota
Yang menjadi anggota pada HPMW adalah seluruh pelajara dan mahasiswa Wera yang berdomisili di Kota Mataram tampa terkecuali, tidak perbedaan ras,warna kulit, gender,
V. DIMANA berada
HPMW bertempat di Kota Mataram
VI. BAGAIMANA HPMW
HPMW merupakan organisasi berasaskan Kekeluargaan dan berlandaskan Al-Quran dan Hadist.
v Prinsip organisasi HPMW
Suatu organisasi bisa dikatakan solid jika memiliki sifat sbb :
1. mempunyai tujuan yang jelas
2. tujuan organisasi harus di terima dan di fahami oelh setiap orang di dalam organisasi
3. memiliki kesatuan arah
4. adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab
5. berkesinambungan
6. penempatan orang harus sesuai ahlinya
7. adanya pembagian tugas
v Manfaat HPMW
a. Menumbuhkan rasa kebersamaan
b. Memperkuat tali persaudaraan
c. Menyebarkan rasa tolong menolong
d. Memperkaya informasi
e. Meningkatkan kualitas pribadi
f. Membangkitkan semangat juang
g. Meningkatkan kualitas fikir
h. Mengurangi sifat egoisme
i. Membina kesatuan berfikir untuk menyamakan pemahaman
j. Melatih toleransi
VII. Perkembangan HPMW
HPMW sejak berdiri sampai sekarang telah beberapa kali melakukan pergantian pimpinan, dinamika ini terjadi secara baik dan jujur, tampa dipengaruhi tendensi yang lain selain komitmen yang telah dibina.
Beberapa ketua HPMW
1. Turfin
2. Hasbi
3. Amirullah
4. Nuski
5. Syarifudin
6. Mulyadin SKM
7. Opick Banta
8. April
9. Amirudin
10. Irman Wahyudin
11. M. Sahdan (sago)
istilah organisasi sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. Namun apakah anda tahu definisi dari kata organisasi itu sendiri?
Organisasi berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat. Pengertian organisasi telah banyak disampaikan para ahli, tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsip, dan sebagai bahan perbandingan akan disampaikan beberapa pendapat sebagai berikut :
1. Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya “The Executive Functions” mengemukakan bahwa : “ Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih” (I define organization as a system of cooperatives of two more persons)
2. James D. Mooney mengatakan bahwa : “Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose” (Organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama)
3. menurut W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, organisasi adalah susunan dan aturan dari berbagai-bagai bagian (orang dsb) sehingga merupakan kesatuan yang teratur.
Dari beberapa pengertian organisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap organisasi harus memiliki empat unsur dasar, yaitu :
a. Adanya sekelompok orang yang saling bekerjasama
b. Adanya tujuan yang sama
c. Adanya bentuk / struktur
d. Adanya aktivitas
Dengan demikian organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki.
Organisasi formal memiliki suatu struktur yang terumuskan dengan baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoritasnya, kekuasaan, akuntabilitas dan tanggung jawabnya. Struktur yang ada juga menerangkan bagaimana bentuk saluran-saluran melalui apa komunikasi berlangsung. Kemudian menunjukkan tugas-tugas terspesifikasi bagi masing-masing anggotanya. Hierarki sasaran organisasi formal dinyatakan secara eksplisit. Status, prestise, imbalan, pangkat dan jabatan, serta prasarat lainya terurutkan dengan baik dan terkendali. Selain itu organisasi formal tahan lama dan mereka terencana dan mengingat bahwa ditekankan mereka beraturan, maka mereka relatif bersifat tidak fleksibel. (J Winardi, 2003:9)
HPMW merupaka sekumpulan pelajar dan mahasiswa wera yang mempunyai tujuan yang sama
II. MENGAPA HPMW berdiri
Karena kegelisahan kawan-kawan mahasisa wera yang menganggap keberadaan pelajar dan mahasiswa belum memberikan kontribusi yang berarti untuk meningkatkan kemampuan, keilmuan, keterampilan pada diri mereka dan kawan-kawan mereka serta orang wera pada umumnya serta tatanan kehidupan civitas yang ada di mataram secara social . Beberapa hal yang bisa digambarkan tentang :
1. Social
2. Pengetahuan tentang perilaku
3. Simpati
4. Pencapaian tujuan yang inginkan
5. Kesempatan berkreasi
6. Komunikasi dan informasi
III. KAPAN HPMW berdiri
HPMW berdiri pada tahun 1994-1995
IV. SIAPA yang menjadi anggota
Yang menjadi anggota pada HPMW adalah seluruh pelajara dan mahasiswa Wera yang berdomisili di Kota Mataram tampa terkecuali, tidak perbedaan ras,warna kulit, gender,
V. DIMANA berada
HPMW bertempat di Kota Mataram
VI. BAGAIMANA HPMW
HPMW merupakan organisasi berasaskan Kekeluargaan dan berlandaskan Al-Quran dan Hadist.
v Prinsip organisasi HPMW
Suatu organisasi bisa dikatakan solid jika memiliki sifat sbb :
1. mempunyai tujuan yang jelas
2. tujuan organisasi harus di terima dan di fahami oelh setiap orang di dalam organisasi
3. memiliki kesatuan arah
4. adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab
5. berkesinambungan
6. penempatan orang harus sesuai ahlinya
7. adanya pembagian tugas
v Manfaat HPMW
a. Menumbuhkan rasa kebersamaan
b. Memperkuat tali persaudaraan
c. Menyebarkan rasa tolong menolong
d. Memperkaya informasi
e. Meningkatkan kualitas pribadi
f. Membangkitkan semangat juang
g. Meningkatkan kualitas fikir
h. Mengurangi sifat egoisme
i. Membina kesatuan berfikir untuk menyamakan pemahaman
j. Melatih toleransi
VII. Perkembangan HPMW
HPMW sejak berdiri sampai sekarang telah beberapa kali melakukan pergantian pimpinan, dinamika ini terjadi secara baik dan jujur, tampa dipengaruhi tendensi yang lain selain komitmen yang telah dibina.
Beberapa ketua HPMW
1. Turfin
2. Hasbi
3. Amirullah
4. Nuski
5. Syarifudin
6. Mulyadin SKM
7. Opick Banta
8. April
9. Amirudin
10. Irman Wahyudin
11. M. Sahdan (sago)
Rabu, 05 Januari 2011
Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi
kepemimpinanSetiap manusia mempunyai tujuan yang berbeda dalam hidupnya, karena pengaruh pengetahuan dan pengalamannya yang berbeda. Namun setiap manusia akan sama dalam satu hal yaitu ingin mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk mencapai tujuan itu manusia harus melakukan aktivitas-aktivitas tertentu.
Oleh karena manusia secara kodrat terbatas kemampuannya maka untuk mencapai tujuannya, manusia memerlukan bantuan dari manusia lainnya. Untuk itu manusia harus bekerja dalam mencapai tujuannya atau berorganisasi.
Dalam organisasi diperlukan manajemen yaitu sushi untuk mengatur, mengkoordinasikan semua tugas yang dilakukan oleh orang-orang dan mengarahkannya kepada tujuan yang hendak dicapai. Supaya unsur-unsur manajemen tertuju serta terarah kepada tujuan yang diinginkan, maka manajemen harus ada yang mengatur yaitu seorang pemimpin dengan wewenang kepemimpinannya melalui intruksi dan persuasi.
KEPEMIMPINAN
1.Definisi kepemimpinan :
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan.
2.Tujuan Kepemimpinan
Tujuan kepemimpinan dalam suatu organisasi adalah menciptakan organisasi (tata kerja bidang) yang dinamis, terkendali guna mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.
3. Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam suatu organisasi merupakan hal yang paling vital, oleh sebab itu seorang pimpinan harus mengetahui fungsi kepemimpinan. Adapun fungsi kepemimpinan yaitu:
a. mengkoordinasikan para anggotanya.
b. membuat keputusan dan membuat kebijakan.
c. mengadakan hubungan kerja/komunikasi dengan baik dan benar ke dalam maupun ke luar.
d. penghubung antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain.
e. sebagai konseptor, penggerak. pengarah, pengatur dan pengawas.
f. pembinaan kerja.
4. Unsur-unsur kepemimpinan
a. Adanya pemimpin
Unsur pertama dari kepemimpinan adalah adanya pemimpin; yakni seseorang yang mendorong dan mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang lain. Sehingga tercipta hubungan kerja yang serasi dan menguntungkan untuk melakukan berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Adanya pengikut
Adanya pengikut; yakni seseorang atau sekelompok orang yang mendapat dorongan atau pengaruh sehingga bersedia dan dapat melakukan berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Adanya sifat dan ataupun perilaku tertentu
Adanya sifat ataupun perilaku tertentu yang dimiliki oleh pemimpin yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong dan ataupun mempengaruhi seseorang atau se kelompok orang.
4. Adanya situasi dan kondisi tertentu
Adanya situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan terlaksananya kepemimpinan. Situasi dan kondisi yang dimaksud dibedakan atas dua macam: pertama, situasi dan kondisi yang terdapat didalam organisasi; kedua, situasi dan kondisi yang terdapat di luar organisasi yakni lingkungan secara keseluruhan.
5. Syarat-syarat Kepemimpinan
Konsepsi mengenai kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu:
a. Kekuasaan
Kekuasaan adalah kekuataan, otoritas, dan legalitas yang memberikan kewenangan kepada pemimpin untuk mempengaruhi dan menggerakan bawahan agar berbuat sesuatu.
b. Kewibawaan
Kewibawaan adalah kelebihan, keunggulan/superioritas, keutamaan, sehingga ia mampu mengatur orang lain; dan orang lain akan patuh pada ke-pemimpin-annya, kemudian bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.
c. Kemampuan
Kemampuan adalah segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan, keterampilan teknis maupun sosial, yang dianggap melebihi atau lebih unggul dari kemampuan angota biasa.
6. Gaya Kepemimpinan.
Kepemimpinan dipengaruhi oleh sifat dan prilaku yang dimiliki oleh pemimpin. Karena sifat dan prilaku seseorang tidak akan persis sama, maka gaya kepemimpinan yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin dapat berbeda antara satu pemimpin yang satu dengan yang lainnya. Dari berbagai gaya kepimpinan, dapatlah disederhanakan atas empat macam:
1. Gaya Kepemimpinan Diktator
Pada gaya kepemimpinan ini upaya mencapai tujuan dilakukan dengan menimbulkan ketakutan serta ancaman hukuman, bawahan hanya dianggap sebagai pelaksana dan pekerja saja.
2. Gaya Kepemimpinan Autokratis
Gaya kepemimpinan ini segala keputusan berada di tangan pemimpin. Pendapat atau kritik dari segala keputusan berada ditangan pemimpin.
3. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Pada gaya ini ditemukan peran serta bawahan dalam pengambilan keputusanyang dilakukan secara musyawarah. Hubungan dengan bawahan dibangun dan dipelihara dengan baik.
4. Gaya Kepemimpinan Santai
Pada gaya ini hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan kepada bawahan. Setiap angota organisasi dapat melakukan kegiatan masing-masing sesuai dengan kehendak.
7. Tipe Kepemimpinan
1. Tipe deserter
Sifatnya: bermoral rendah, tidak memiliki rasaketerlibatan, tanpa pengabdian, tanpa loyalitas,dan ketaatan, sukar diramalkan.
2. Tipe birokrat
Sifatnya:korektif, patuh pada peraturan dan norma-norma, manusia organisasi, tepat, akurat/ cermat, keras, berdisiplan.
3. Tipe missionary
Sifatnya: terbuka penolong, lembut hati, ramah-tamah, alim, religius.
4. Tipe developer
Sifatnya; kreatif, dinamis, inovatif, memberikan/melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan pada bawahan.
5. Tipe otokrat
Sifatnya: keras, diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala, sombong, bandel.
6. Benevolent autocrat
Sifatnya: lancar, tertib, ahli dalam mengorganisir, besar rasa keterlibatan diri.
7. Tipe compromiser
Sifatnya: plintat-plintut, selalu mengikuti angin, tanpa pendirian, tidak mempunyasi keputusan, berpandangan pendek, tak punya kepribadian kuat.
8. Tipe eksekutif
Sifatnya: bermutu tinggi, dapat memberikan motivasi yang baik, berpandangan jauh, tekun.
MANAJEMEN
1. Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dan fungsi-fungsi manajemen. Jadi manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Berikut beberapa pengertian menurut pakar:
a. Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya mnusia dan sumberdayalainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.(Drs. H. Malayu SP Hasibuan)
b. Manajemen adalah usaha mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.Dengan demikian manager mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.( Harold Koontz & Cyril O’Donnel)
2. Tujuan Manajemen
Tujuan manajemen adalah terciptanya pengelolaan semua program-program secara baik dan
teratur berdasarkan urutan-urutan kebutuhan dan waktu pelaksanaan.
3. Fungsi Manajemen
Untuk mengelola semua program-program kegiatan yang kemudian teraplikasi kedalam planning, organizing, actuating dan controling.
a. Planing
Menetapkan apa yang harus dilaksanakan oleh anggota-anggota untuk menyelesaikan pekerjaan, dalam fase pertama ini perlu juga ditetapkan oleh manajer bila dan bagaimana pekerjaan harus diselesaikan.
b. Organizing
Mendistribusikan atau mengalokasikan tugas-tugas kepada para anggota kelompok, mendelegasikan wewenang dan menetapkan hubungan kerja antar anggota kelompok.
c. Actuating
Setelah kegiatan planning dan organizing manajer perlu dapat menggerakan kelompok secara efesien dan efektif kearah pencapaian tujuan. Dalam menggerakan kelompok ini manajer menggunakan pelbagai sarana misalnya komunikasi, kepemimpinan, perundingan-perundingan, pemberian intruksi dan lain-lain. Kegiatan manajer yang menyebabkan organisasi bergerak atau berjalan lazim disebut penggerakan (actuating).
d. Controling
Pada organisasi bergerak atau berjalan manajer harus selalu mengadakan pengawasan atau pengendalian agar gerakan atau jalannya organisasi benar-benar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan baik mengenai arahnya atau caranya. Dengan rangkaian kegiatan di atas, seorang manajer diharapkan dapat membawa organisasi yang dipimpinnya kearah pencapain tujuan.
4. Unsur-unsur Manajemen
a. Input
Yang dimaksud dengan input/masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan manajemen.
b. Proses
Yang dimaksud dengam proses dalam manajemen adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan..
c. Output
Yang dimaksud dengan keluaran adalah hasil dari suatu pekerjaan manajemen.
d. Target
Yang dimaksud dengan sasaran/target adalah kepada siapa keluaran yang dihasilkan ditujukan.
e. dampak
Yang dimaksud dengan dampak adalah akibat yang ditimbulkan oleh keluaran.
5. Asas-Asas Manajemen
Asas merupakan suatu pernyatan fundamental atau kebenaran umum yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Asas-asas muncul dari hasil penelitian dan pengalaman. Asas ini sifatnya permanen umum dan setiap ilmu pengetahuan memiliki asas yang mencerminkan intisari kebenaran-kebenaran dasar dalam ilmu tersebut
6. Sistem-Sistem Manajemen
a. Manajemen Bapak ( paternalistic management)
Diartikan bahwa setiap usaha dan aktivitas organisasi para pengikut / bawahan selalu mengikuti jejak bapak. Apa yang dikatakan atau diperintahkan bapak itulah yang benar. Dalam hal ini tidak ada alternative lain kecuali mengikuti bapak.
b. Manajemen Tertutup (Closed Management)
Manajer tidak memberitahukan/menginformasikan keadaan perusahaan pada para bawahannya walaupun dalam batas-batas tertentu saja. Keputusan-keputusan diambilnya tanpa melibatkan partisipasi para bawahannya dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
c. Manajemen Terbuka (Opened Managenet)
Diterapkan dengan cara sebagai berikut :
- Manajer (atasan) banyak menginformasikan keadaan (rahasia) organisasi kepada anggotanya,Sehingga anggota nya dalam batasa-batasan tertentu mengetahui keadaan organisasi.
- Seorang manajer sebelum mengambil keputusan, terlebih dahulu memberi kesempatan kepada para anggotanya untuk mengemukakan saran-saran dan pendapat-pendapatnya. Tegasnya, manajer mengajak para anggotanya untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Keputusan terakhir berada ditangan manajer.
d. Manajemen Demokrasi
Pelaksanaan manjemen demokrasi hampir sama dengan manajemen terbuka, khususnya dalam proses pengambilan keputusan, dimana para anggota diajak dan ikut sertakan berpartisipasi memberikn saran-saran,pemikiran-pemikiran dan cara-cara pemecahan terhadap masalah-maslah yang dihadapi.
Manajer/pemimpin selalu terbuka untuk dikritik, menerima saran dan pendapat dari para anggotanya, selalu bekerja sama dalam mencapai tujuan organisasi.
ORGANISASI
1. Pengertian Organisasi
Organisasi dapat diartikan sebagai “ Kerja sama orang-orang atau sekelompok orang dengan menggunakan dana, alat-alat dan teknologi, serta mau terikat dengan peraturan-peraturan dan lingkungan tertentu supaya dapat mengarah pada pencapaian tujuan yang diinginkan”.
2. Tujuan Organisasi
Tujuan organisasi secara universal adalah tercapainya semua program-program kerja yang telah ditetapkan bersama.
3. Fungsi Organisasi
Fungsi organisasi adalah sebagai wadah atau media untuk menyusun program kerja, menyusun taktik, sebagai perkaderan, sebagai sosial-kemasyarakatan, sebagai pembinaan, penggalangan masa.
4. Bentuk-Bentuk Organisasi
a. Organisasi Lini
Bentuk organisasi ini, pembagian tugas dan wewenang terdapat perbedaan yang tegas antara pimpinan dan pelaksanaan. Peran pemimpin sangat dominan, dimana semua kekuasaan di tangan pemimpin.
b. Organisasi Staf
Dalam organisasi ini, tidak begitu tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf pelaksanaan. Peran staf bukan sekedar pelaksana perintah pimpinan, namun staf berperan sebagai pembantu pimpinan.
c. Organisasi Lini dan Staf
Organisasi ini merupakan gabungan kedua jenis organisasi yaitu lini dan staf. Dalam organisasi ini staf bukan sekadar pelaksana tugas tetapi juga diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberi perintah atau nasihat, tetapi juga bertanggung jawab atas perintah atau nasihat tersebut.
5. Struktur Organisasi
a. Struktur Sederhana
Bentuk ini dipakai untuk organisasi-organisasi yang baru berdiri, organisasi-organisasi tersebut dikelola oleh ketua, sekretaris, dan bendahara.
b. Membagi Struktur Fungsional
Bentuk ini membagi tanggung jawab atas dasar bidang-bidang kebutuhan, stuktur fungsional memungkinkan organisasi mendapatkan keuntungan dari keahlian masing-masing bidang yang tercipta dari profesionalisme diantara ketua bidang
c. Struktur Desentralisasi
Pada saat organisasi berkembang, baik anggota ataupun lembaga-lembaga yang ada bertambah, maka organisasi dapat berkembang sesuai dengan lembaga yang dikelolanya, tetapi masih dalam satu wadah.
d. Struktur Matrik
Bentuk ini adalah bentuk yang paling rumit dan yang paling kompleks disbanding dengan bentuk lainnya. Kerumitan dari struktur matrik tersebut berasal dari ketergantungan secara vertical dan horizontal aliran dari wewenang dan komunikasi
PENUTUP
Seorang pemimpin merupakan elemen yang sangat vital dalam menentukan maju mundurnya sebuah organisasi, sebab sebesar apapun sebuah organisasi kalau tidak dipimpin oleh seorang pemimpin yang mempunyai otoritas, legalitas dan kredibilitas yang bagus akan mengalami perkembangan yang mandul (statis).
Adapun hal lainnya yang sangat mendukung perkembangan sebuah organisasi adalah manajemen, yakni bagaimana seorang pemimpin dapat memahami dan mempengaruhi anggotanya untuk mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan dan semua unsur-unsur dalam sebuah organisasi
Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Melalui manajemen semua kegiatan dikoordinir dan diarahkan menuju kepada tujuan yang telah ditetapkan dalam organisasi. Oleh karena itu, manajemen ada pada setiap tingkat organisasi
Oleh karena manusia secara kodrat terbatas kemampuannya maka untuk mencapai tujuannya, manusia memerlukan bantuan dari manusia lainnya. Untuk itu manusia harus bekerja dalam mencapai tujuannya atau berorganisasi.
Dalam organisasi diperlukan manajemen yaitu sushi untuk mengatur, mengkoordinasikan semua tugas yang dilakukan oleh orang-orang dan mengarahkannya kepada tujuan yang hendak dicapai. Supaya unsur-unsur manajemen tertuju serta terarah kepada tujuan yang diinginkan, maka manajemen harus ada yang mengatur yaitu seorang pemimpin dengan wewenang kepemimpinannya melalui intruksi dan persuasi.
KEPEMIMPINAN
1.Definisi kepemimpinan :
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan.
2.Tujuan Kepemimpinan
Tujuan kepemimpinan dalam suatu organisasi adalah menciptakan organisasi (tata kerja bidang) yang dinamis, terkendali guna mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.
3. Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam suatu organisasi merupakan hal yang paling vital, oleh sebab itu seorang pimpinan harus mengetahui fungsi kepemimpinan. Adapun fungsi kepemimpinan yaitu:
a. mengkoordinasikan para anggotanya.
b. membuat keputusan dan membuat kebijakan.
c. mengadakan hubungan kerja/komunikasi dengan baik dan benar ke dalam maupun ke luar.
d. penghubung antara organisasi yang satu dengan organisasi yang lain.
e. sebagai konseptor, penggerak. pengarah, pengatur dan pengawas.
f. pembinaan kerja.
4. Unsur-unsur kepemimpinan
a. Adanya pemimpin
Unsur pertama dari kepemimpinan adalah adanya pemimpin; yakni seseorang yang mendorong dan mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang lain. Sehingga tercipta hubungan kerja yang serasi dan menguntungkan untuk melakukan berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Adanya pengikut
Adanya pengikut; yakni seseorang atau sekelompok orang yang mendapat dorongan atau pengaruh sehingga bersedia dan dapat melakukan berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Adanya sifat dan ataupun perilaku tertentu
Adanya sifat ataupun perilaku tertentu yang dimiliki oleh pemimpin yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong dan ataupun mempengaruhi seseorang atau se kelompok orang.
4. Adanya situasi dan kondisi tertentu
Adanya situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan terlaksananya kepemimpinan. Situasi dan kondisi yang dimaksud dibedakan atas dua macam: pertama, situasi dan kondisi yang terdapat didalam organisasi; kedua, situasi dan kondisi yang terdapat di luar organisasi yakni lingkungan secara keseluruhan.
5. Syarat-syarat Kepemimpinan
Konsepsi mengenai kepemimpinan itu harus selalu dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu:
a. Kekuasaan
Kekuasaan adalah kekuataan, otoritas, dan legalitas yang memberikan kewenangan kepada pemimpin untuk mempengaruhi dan menggerakan bawahan agar berbuat sesuatu.
b. Kewibawaan
Kewibawaan adalah kelebihan, keunggulan/superioritas, keutamaan, sehingga ia mampu mengatur orang lain; dan orang lain akan patuh pada ke-pemimpin-annya, kemudian bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.
c. Kemampuan
Kemampuan adalah segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan, keterampilan teknis maupun sosial, yang dianggap melebihi atau lebih unggul dari kemampuan angota biasa.
6. Gaya Kepemimpinan.
Kepemimpinan dipengaruhi oleh sifat dan prilaku yang dimiliki oleh pemimpin. Karena sifat dan prilaku seseorang tidak akan persis sama, maka gaya kepemimpinan yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin dapat berbeda antara satu pemimpin yang satu dengan yang lainnya. Dari berbagai gaya kepimpinan, dapatlah disederhanakan atas empat macam:
1. Gaya Kepemimpinan Diktator
Pada gaya kepemimpinan ini upaya mencapai tujuan dilakukan dengan menimbulkan ketakutan serta ancaman hukuman, bawahan hanya dianggap sebagai pelaksana dan pekerja saja.
2. Gaya Kepemimpinan Autokratis
Gaya kepemimpinan ini segala keputusan berada di tangan pemimpin. Pendapat atau kritik dari segala keputusan berada ditangan pemimpin.
3. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Pada gaya ini ditemukan peran serta bawahan dalam pengambilan keputusanyang dilakukan secara musyawarah. Hubungan dengan bawahan dibangun dan dipelihara dengan baik.
4. Gaya Kepemimpinan Santai
Pada gaya ini hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan kepada bawahan. Setiap angota organisasi dapat melakukan kegiatan masing-masing sesuai dengan kehendak.
7. Tipe Kepemimpinan
1. Tipe deserter
Sifatnya: bermoral rendah, tidak memiliki rasaketerlibatan, tanpa pengabdian, tanpa loyalitas,dan ketaatan, sukar diramalkan.
2. Tipe birokrat
Sifatnya:korektif, patuh pada peraturan dan norma-norma, manusia organisasi, tepat, akurat/ cermat, keras, berdisiplan.
3. Tipe missionary
Sifatnya: terbuka penolong, lembut hati, ramah-tamah, alim, religius.
4. Tipe developer
Sifatnya; kreatif, dinamis, inovatif, memberikan/melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan pada bawahan.
5. Tipe otokrat
Sifatnya: keras, diktatoris, mau menang sendiri, keras kepala, sombong, bandel.
6. Benevolent autocrat
Sifatnya: lancar, tertib, ahli dalam mengorganisir, besar rasa keterlibatan diri.
7. Tipe compromiser
Sifatnya: plintat-plintut, selalu mengikuti angin, tanpa pendirian, tidak mempunyasi keputusan, berpandangan pendek, tak punya kepribadian kuat.
8. Tipe eksekutif
Sifatnya: bermutu tinggi, dapat memberikan motivasi yang baik, berpandangan jauh, tekun.
MANAJEMEN
1. Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dan fungsi-fungsi manajemen. Jadi manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Berikut beberapa pengertian menurut pakar:
a. Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya mnusia dan sumberdayalainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.(Drs. H. Malayu SP Hasibuan)
b. Manajemen adalah usaha mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.Dengan demikian manager mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.( Harold Koontz & Cyril O’Donnel)
2. Tujuan Manajemen
Tujuan manajemen adalah terciptanya pengelolaan semua program-program secara baik dan
teratur berdasarkan urutan-urutan kebutuhan dan waktu pelaksanaan.
3. Fungsi Manajemen
Untuk mengelola semua program-program kegiatan yang kemudian teraplikasi kedalam planning, organizing, actuating dan controling.
a. Planing
Menetapkan apa yang harus dilaksanakan oleh anggota-anggota untuk menyelesaikan pekerjaan, dalam fase pertama ini perlu juga ditetapkan oleh manajer bila dan bagaimana pekerjaan harus diselesaikan.
b. Organizing
Mendistribusikan atau mengalokasikan tugas-tugas kepada para anggota kelompok, mendelegasikan wewenang dan menetapkan hubungan kerja antar anggota kelompok.
c. Actuating
Setelah kegiatan planning dan organizing manajer perlu dapat menggerakan kelompok secara efesien dan efektif kearah pencapaian tujuan. Dalam menggerakan kelompok ini manajer menggunakan pelbagai sarana misalnya komunikasi, kepemimpinan, perundingan-perundingan, pemberian intruksi dan lain-lain. Kegiatan manajer yang menyebabkan organisasi bergerak atau berjalan lazim disebut penggerakan (actuating).
d. Controling
Pada organisasi bergerak atau berjalan manajer harus selalu mengadakan pengawasan atau pengendalian agar gerakan atau jalannya organisasi benar-benar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan baik mengenai arahnya atau caranya. Dengan rangkaian kegiatan di atas, seorang manajer diharapkan dapat membawa organisasi yang dipimpinnya kearah pencapain tujuan.
4. Unsur-unsur Manajemen
a. Input
Yang dimaksud dengan input/masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan pekerjaan manajemen.
b. Proses
Yang dimaksud dengam proses dalam manajemen adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan..
c. Output
Yang dimaksud dengan keluaran adalah hasil dari suatu pekerjaan manajemen.
d. Target
Yang dimaksud dengan sasaran/target adalah kepada siapa keluaran yang dihasilkan ditujukan.
e. dampak
Yang dimaksud dengan dampak adalah akibat yang ditimbulkan oleh keluaran.
5. Asas-Asas Manajemen
Asas merupakan suatu pernyatan fundamental atau kebenaran umum yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Asas-asas muncul dari hasil penelitian dan pengalaman. Asas ini sifatnya permanen umum dan setiap ilmu pengetahuan memiliki asas yang mencerminkan intisari kebenaran-kebenaran dasar dalam ilmu tersebut
6. Sistem-Sistem Manajemen
a. Manajemen Bapak ( paternalistic management)
Diartikan bahwa setiap usaha dan aktivitas organisasi para pengikut / bawahan selalu mengikuti jejak bapak. Apa yang dikatakan atau diperintahkan bapak itulah yang benar. Dalam hal ini tidak ada alternative lain kecuali mengikuti bapak.
b. Manajemen Tertutup (Closed Management)
Manajer tidak memberitahukan/menginformasikan keadaan perusahaan pada para bawahannya walaupun dalam batas-batas tertentu saja. Keputusan-keputusan diambilnya tanpa melibatkan partisipasi para bawahannya dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
c. Manajemen Terbuka (Opened Managenet)
Diterapkan dengan cara sebagai berikut :
- Manajer (atasan) banyak menginformasikan keadaan (rahasia) organisasi kepada anggotanya,Sehingga anggota nya dalam batasa-batasan tertentu mengetahui keadaan organisasi.
- Seorang manajer sebelum mengambil keputusan, terlebih dahulu memberi kesempatan kepada para anggotanya untuk mengemukakan saran-saran dan pendapat-pendapatnya. Tegasnya, manajer mengajak para anggotanya untuk berpartisipasi dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Keputusan terakhir berada ditangan manajer.
d. Manajemen Demokrasi
Pelaksanaan manjemen demokrasi hampir sama dengan manajemen terbuka, khususnya dalam proses pengambilan keputusan, dimana para anggota diajak dan ikut sertakan berpartisipasi memberikn saran-saran,pemikiran-pemikiran dan cara-cara pemecahan terhadap masalah-maslah yang dihadapi.
Manajer/pemimpin selalu terbuka untuk dikritik, menerima saran dan pendapat dari para anggotanya, selalu bekerja sama dalam mencapai tujuan organisasi.
ORGANISASI
1. Pengertian Organisasi
Organisasi dapat diartikan sebagai “ Kerja sama orang-orang atau sekelompok orang dengan menggunakan dana, alat-alat dan teknologi, serta mau terikat dengan peraturan-peraturan dan lingkungan tertentu supaya dapat mengarah pada pencapaian tujuan yang diinginkan”.
2. Tujuan Organisasi
Tujuan organisasi secara universal adalah tercapainya semua program-program kerja yang telah ditetapkan bersama.
3. Fungsi Organisasi
Fungsi organisasi adalah sebagai wadah atau media untuk menyusun program kerja, menyusun taktik, sebagai perkaderan, sebagai sosial-kemasyarakatan, sebagai pembinaan, penggalangan masa.
4. Bentuk-Bentuk Organisasi
a. Organisasi Lini
Bentuk organisasi ini, pembagian tugas dan wewenang terdapat perbedaan yang tegas antara pimpinan dan pelaksanaan. Peran pemimpin sangat dominan, dimana semua kekuasaan di tangan pemimpin.
b. Organisasi Staf
Dalam organisasi ini, tidak begitu tegas garis pemisah antara pimpinan dan staf pelaksanaan. Peran staf bukan sekedar pelaksana perintah pimpinan, namun staf berperan sebagai pembantu pimpinan.
c. Organisasi Lini dan Staf
Organisasi ini merupakan gabungan kedua jenis organisasi yaitu lini dan staf. Dalam organisasi ini staf bukan sekadar pelaksana tugas tetapi juga diberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya tujuan secara baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberi perintah atau nasihat, tetapi juga bertanggung jawab atas perintah atau nasihat tersebut.
5. Struktur Organisasi
a. Struktur Sederhana
Bentuk ini dipakai untuk organisasi-organisasi yang baru berdiri, organisasi-organisasi tersebut dikelola oleh ketua, sekretaris, dan bendahara.
b. Membagi Struktur Fungsional
Bentuk ini membagi tanggung jawab atas dasar bidang-bidang kebutuhan, stuktur fungsional memungkinkan organisasi mendapatkan keuntungan dari keahlian masing-masing bidang yang tercipta dari profesionalisme diantara ketua bidang
c. Struktur Desentralisasi
Pada saat organisasi berkembang, baik anggota ataupun lembaga-lembaga yang ada bertambah, maka organisasi dapat berkembang sesuai dengan lembaga yang dikelolanya, tetapi masih dalam satu wadah.
d. Struktur Matrik
Bentuk ini adalah bentuk yang paling rumit dan yang paling kompleks disbanding dengan bentuk lainnya. Kerumitan dari struktur matrik tersebut berasal dari ketergantungan secara vertical dan horizontal aliran dari wewenang dan komunikasi
PENUTUP
Seorang pemimpin merupakan elemen yang sangat vital dalam menentukan maju mundurnya sebuah organisasi, sebab sebesar apapun sebuah organisasi kalau tidak dipimpin oleh seorang pemimpin yang mempunyai otoritas, legalitas dan kredibilitas yang bagus akan mengalami perkembangan yang mandul (statis).
Adapun hal lainnya yang sangat mendukung perkembangan sebuah organisasi adalah manajemen, yakni bagaimana seorang pemimpin dapat memahami dan mempengaruhi anggotanya untuk mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan dan semua unsur-unsur dalam sebuah organisasi
Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Melalui manajemen semua kegiatan dikoordinir dan diarahkan menuju kepada tujuan yang telah ditetapkan dalam organisasi. Oleh karena itu, manajemen ada pada setiap tingkat organisasi
Senin, 20 Desember 2010
PENTINGNYA VISI & KOMITMEN DALAM HIDUP
Teman – temanku, masyarakat kita sekarang sedang mengidap penyakit kronis yang sangat berbahaya.Penyakit itu adalah tidak memiliki visi dan tidak memiliki komitmen dalam hidup.
Tidak adanya visi dan tujuan dalam hidup, menjadikannya pendek pikiran.Karena pendek pikiran, ia lebih tertarik melakukan hal-hal yang instan sifatnya, yang memberikan kenikmatan sesaat, tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya.
Tidak adanya visi menjadikan seseorang tidak komitmen menjalankan nilai-nilai kebenaran.Ia akan terombang-ambing dalam ketidakpastian.Ia tidak memiliki semangat juang untuk sukses dan istikomah dalam beramal.Dua penyakit ini tidak memiliki visi yang jelas dan tidak memiliki kedisiplinan.Dan tidak disiplin menjadi modal awal untuk meraih kegagalan.
Tidak adanya visi dan komitmen akan menyababkan seseorang sibuk beraktivitas.Namun semua yang dilakukannya tidak efektif, dan tidak bernilai tambah, dan hanya membuang-buang waktu.Sebab ia hanya mengerjakan hal-hal yang kurang penting.Mungkin pula aktivitas yang ia lakukan sangat menyenangkan, namun akibat yang ditimbulkannya demikian panjang dan berat.Tidak sebanding antara yang ia dapatkan dengan yang ia korbankan.Karena segalanya dilakukan tanpa arah yang jelas dan perhitungan yang matang.
Demikian pula dengan seorang remaja yang akan tergelincir melakukan maksiat.Karena ia tidak memiliki visi yang jelas dalam hidupnya.Bagaimana membangun keluarga sakinah? Apa akibat yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut? Semuanya gelap.Ia hanya memikirkan kesenangan untuk waktu itu saja.Ia muslim, namun ia tidak memiliki komitmen dengan nilai-nilai keislamannya.
Seorang pegawai yang tidak memiliki visi dalam hidup dan komitmen terhadap nilai-nilai, maka ia akan bekerja seenak perut, tidak berfikir untuk mengembangkan diri dan bekerja secara profesional.Ia hanya menuntut hak tanpa peduli kewajiban.Tidak heran bila dalam sekejap/singkat, ia akan tergusur oleh perubahan.
Seoarang pejabat yang tidak memiliki visi dalam hidup, komitmennya manjaga amanah rakyat sangat diragukan.Ia akan dengan mudah tergelincir dan meyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri, tanpa peduli akibat yang akan ditimbulkan.
Seorang pedagang yang tidak memiliki visi dan komitmen dalam hidup, akan mudah menipu pembeli.Ia akan manukar kebahagiaan dan keberkahan dengan keuntungan yang banyak.
Karena itu, siapa yang memiliki visi atau tujuan yang jelas dalam hidupnya, lalu berjuang keras menjaga komitmen hidupnya, maka ia akan menjadi manusia disiplin.Dan dengan kesiplinan, gerbang kesuksesan akan segera kita jelang..Wassalam
NURHIDAYATI ARIFAH
AyayaqAdamPapuHajiOcong
Tidak adanya visi dan tujuan dalam hidup, menjadikannya pendek pikiran.Karena pendek pikiran, ia lebih tertarik melakukan hal-hal yang instan sifatnya, yang memberikan kenikmatan sesaat, tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya.
Tidak adanya visi menjadikan seseorang tidak komitmen menjalankan nilai-nilai kebenaran.Ia akan terombang-ambing dalam ketidakpastian.Ia tidak memiliki semangat juang untuk sukses dan istikomah dalam beramal.Dua penyakit ini tidak memiliki visi yang jelas dan tidak memiliki kedisiplinan.Dan tidak disiplin menjadi modal awal untuk meraih kegagalan.
Tidak adanya visi dan komitmen akan menyababkan seseorang sibuk beraktivitas.Namun semua yang dilakukannya tidak efektif, dan tidak bernilai tambah, dan hanya membuang-buang waktu.Sebab ia hanya mengerjakan hal-hal yang kurang penting.Mungkin pula aktivitas yang ia lakukan sangat menyenangkan, namun akibat yang ditimbulkannya demikian panjang dan berat.Tidak sebanding antara yang ia dapatkan dengan yang ia korbankan.Karena segalanya dilakukan tanpa arah yang jelas dan perhitungan yang matang.
Demikian pula dengan seorang remaja yang akan tergelincir melakukan maksiat.Karena ia tidak memiliki visi yang jelas dalam hidupnya.Bagaimana membangun keluarga sakinah? Apa akibat yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut? Semuanya gelap.Ia hanya memikirkan kesenangan untuk waktu itu saja.Ia muslim, namun ia tidak memiliki komitmen dengan nilai-nilai keislamannya.
Seorang pegawai yang tidak memiliki visi dalam hidup dan komitmen terhadap nilai-nilai, maka ia akan bekerja seenak perut, tidak berfikir untuk mengembangkan diri dan bekerja secara profesional.Ia hanya menuntut hak tanpa peduli kewajiban.Tidak heran bila dalam sekejap/singkat, ia akan tergusur oleh perubahan.
Seoarang pejabat yang tidak memiliki visi dalam hidup, komitmennya manjaga amanah rakyat sangat diragukan.Ia akan dengan mudah tergelincir dan meyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri, tanpa peduli akibat yang akan ditimbulkan.
Seorang pedagang yang tidak memiliki visi dan komitmen dalam hidup, akan mudah menipu pembeli.Ia akan manukar kebahagiaan dan keberkahan dengan keuntungan yang banyak.
Karena itu, siapa yang memiliki visi atau tujuan yang jelas dalam hidupnya, lalu berjuang keras menjaga komitmen hidupnya, maka ia akan menjadi manusia disiplin.Dan dengan kesiplinan, gerbang kesuksesan akan segera kita jelang..Wassalam
NURHIDAYATI ARIFAH
AyayaqAdamPapuHajiOcong
Minggu, 12 Desember 2010
Metodologi Sejarah
Narativisme VS Strukturalisme
Ilmu Sejarah adalah ilmu yang menggairahkan, karena ia mengajak manusia untuk memikirkan kembali keberadaannya, sambil bertamasya ke masa silam. Dengan belajar sejarah, kita akan meneruskan peradaban yang sudah ada, tidak memulai kehidupan dari titik nol. Tentu saja, bagi para sejarawan, gairah sejarah tidak hanya terletak sebatas ini. Sejarawan –sebagai orang yang “memproduksi” sejarah-, justru menjadi gairah ketika ia melakukan pencarian terhadap sebuah kebenaran peristiwa sejarah. Mendekati kebenaran bagi sejarawan, adalah sebuah keniscayaan -walaupun hal itu adalah sesuatu yang absurd. Hal ini disebabkan karena “kebenaran” yang ditulis sejarawan berhubungan dengan kenyataan sosial masyarakat. Dengan kata lain, sejarawan bertanggung jawab terhadap seluruh ingatan kolektif yang ada di masyarakat.
Sebagai langkah atau upaya mendekati kebenaran, terdapat proses dialog yang berlangsung antar sejarawan. Masing-masing sejarawan, memiliki cara atau pendekatan tersendiri, dalam menafsirkan kebenaran. Tentunya, hal ini bersandar pada argumentasi yang dapat dipertanggung-jawabkan.
Narativisme.
Berdasarkan istilah kebahasaan, narativisme berasal dari bahasa latin, narratio yang berarti cerita. Secara umum, jika mendengar kosa-kata ini, yang tergambar adalah kisah yang berlangsung antar penggalan episode satu ke episode lain, dengan eksplorasi alur kronologis yang tak boleh terputuskan. Hubungan antar episode, harus melahirkan seorang tokoh sentral atau tokoh besar. Karena sebuah cerita tak akan menarik, jika semua tokoh yang ada disama-ratakan. Tokoh harus dibuat secara bertingkat, terbatasi sekat-sekat status sosial, tingkat mitologi religiusitas dan sebagainya. Bahkan, Carlyle mengatakan “sejarah dunia ini adalah biografi orang besar.”
Secara umum, definisi narativisme dalam ilmu sejarah tidak jauh berbeda dari pengertian diatas. Namun demikian, berbeda dengan kisah biasa, narativisme dalam penceritaannya juga melalui tahap metode sejarah. Ranke mengatakan bahwa tugas sejarawan adalah menceritakan kebenaran suatu peristiwa apa adanya, dan kebenaran sejarah ada pada dokumen (istilahnya mengenai obyektifitas: “Wie es eigentlich gewesen”). Dengan demikian, sejarawan bertugas untuk menguraikan fakta dalam dokumen secara kronologis sebagai sebuah kesatuan cerita. Ankersmith mengatakan bahwa kisah yang baik mengenai suatu peristiwa adalah kisah yang banyak mengandung detail fakta-fakta. Kendati demikian, narativisme bukan hanya menafsirkan masa silam dan menyusun laporan secara kronologis. Narativisme juga ingin melukiskan sifat-sifat khas bagi suatu kurun tertentu (Ankersmith: 1987).
Dalam narativisme, Aktor memiliki kedudukan penting, karena sejarah berbicara mengenai tokoh, dan tokoh itu harus memiliki kategori yang menentukan perubahan. Sejarah tercipta, karena adanya individu/tokoh yang melakukan sesuatu, karena aktorlah perubahan tercipta. Narativisme akan mencontohkan, bahwa sukar untuk mendefinisikan terjadinya Perang Dunia II, seandainya Hittler tidak dilahirkan ke dunia. Jadi individualisme Hitler, adalah penting untuk menggambarkan terjadinya perang yang menghancurkan kemanusiaan tersebut.
Dengan demikian, kelebihan dari narativisme ialah detail-detail dalam cerita, dan juga mampu menunjukkan jalannya suatu peristiwa sebagai sebuah cerita yang berkaitan. Sebagai karya sastra, tulisan narativisme menjadi suatu kisah yang enak di baca. Apalagi didalamnya ada tokoh sentral dan pembantu, serta figuran. Narativisme juga menarik untuk membangkitkan daya imajinasi.
Kelemahan Narativisme
Narativisme memiliki kelemahan sebagai berikut:
1. Narativisme dianggap selalu berbicara mengenai orang besar, padahal sejarah juga mencakup hal-hal yang kecil. Individu dilihat sebagai makhluk yang kreatif dan mampu melakukan perubahan dengan sendirinya, padahal individu bukanlah sesuatu yang given. Individu muncul sebagai proses adaptasi terhadap ekologinya. Hitler, muncul dengan fasisnya harus dijelaskan dari sisi lain, bahwa saat itu Jerman dalam posisi terhinakan karena PD I. Dan untuk itu Hitler memerlukan kepercayaan diri bagi bangsanya, jalannya yaitu dengan praktek rasial.
2. Narativisme hanya menjelaskan sejarah atas dasar fakta yang ada pada dokumen. Padahal banyak kebenaran yang luput dituliskan, dan hal ini penting untuk menjelaskan suatu peristiwa. Dokumen juga memiliki banyak kelemahan, ketika ditulis, hal-hal yang ada dalam dokumen sudah melalui tahap seleksi. Karenanya, ia harus dipahami sebagai suatu karya yang disusun berdasarkan selera dan kepentingan penulisnya. Kemudian kelemahan lain dokumen, yaitu karena ia diproduksi oleh suatu institusi. Terdapat kecenderungan, bahwa institusi hanya akan menceritakan sesuatu yang baik bagi dirinya.
3. Narativisme menekankan pemahaman literal, artinya hanya menggunakan data dokumen sebagaimana adanya. Narativisme menekankan hubungan sebab-akibat, tanpa melihat alternatif pilihan yang lain. Tidak mencari “sesuatu” yang berada dibawah permukaan. Ketika bercerita mengenai perlawanan Pitung, narativisme hanya melihat apa dan bagaimana jalannya perlawanan. Tanpa mau melihat bahwa Perlawanan Pitung, muncul dari sisi mentalitas kaum betawi-santri, klas sosial dan faktor-faktor lainnya.
Strukturalisme
Istilah strukturalisme identik dengan Levi Strauss dan Annalles School. Tradisi ini muncul sebagai kritik terhadap pendekatan narativisme yang dianggap terlalu memanjakan aktor. Mazhab struktural menekankan bahwa seorang tokoh besar tidak lahir dan berkembang dalam ruang hampa, melainkan ia hadir dalam konteks struktur sosial tertentu. Mazhab struktural memaparkan bahwa struktur sosial dapat terbentuk karena pengaruh geografis. Singkatnya, seorang tokoh yang berperan dalam suatu peristiwa sejarah dipengaruhi secara dominan oleh determinan fisik. Contoh: seorang tokoh yang egaliter pada umumnya lahir di bentang alam pesisir dan seorang tokoh yang hierarkis pada umumnya lahir di bentang alam pedalaman atau pegunungan yang terisolasi.
Dalam strukturalisme yang ditekankan justru adalah struktur bukan manusia. Struktur membutuhkan elemen (individual/manusia), tetapi itu hanya sebagai bagian dari hukum atau aturan yang berlaku. Bagaimanapun, setiap tindakan individu pada hakekatnya dilandasi norma-norma yang berlaku pada masyarakatnya. Manusia tidak bisa menjadi individu, kecuali dalam lingkungan sosialnya.(Leirissa: 2002). Jadi sadar atau tidak, apa yang dilakukan manusia tidak bisa lepas dari struktur. Karenanya penjelasan teoritik dan analitik terhadap apa yang dilakukan harus diurai dalam konteks struktur. Untuk itulah seorang sejarawan hendaknya tidak hanya memahami fakta-fakta suatu peristiwa, melainkan juga harus memahami ilmu-ilmu bantu/teori-teori sosial untuk membedah sebuah struktur peristiwa.
Klaim kerja strukturalisme, mengatakan bahwa realitas harus dimaknai sebagai misteri yang harus dicari, karena ia hanyalah fenomena/tampakan. Dengan demikian sebuah realitas adalah suatu yang harus dilihat secara abstrak, dan dijelaskan sebagai sebuah fenomena. Levi Strauss, berpendapat bahwa struktur adalah konsep cara berfikir manusia yang elementer, dan karenanya bersifat universal. Untuk itu yang penting ialah bagaimana kita memahami cara berfikir simbolik pada manusia.
Menurut Lloyd (1987), strukturalisme diperkenalkan dalam berbagai bidang pengetahuan oleh beberapa tokoh ternama, seperti: Ferdinand Saussure dalam bidang linguistik, Emile Durkheim dalam sosiologi, Karl Marx pada bidang ekonomi-politik dan sejarah serta Sigmund Freud dalam bidang psikologi.
Dalam bidang psikologi atau juga mentalite, strukturalisme mendapat tempat pada pemikiran Annales School, yaitu Lucien Febvre, March Bloch, yang berlanjut pada Fernand Braudel. Bagi mereka pekerjaan sejarawan adalah meneliti lingkungan sosial yang menjadi bekal mentalnya, bukan pada hubungan antar individu an sich. Buku karangan Febvre mengenai religiusitas seorang pengarang perancis abad ke-16, Rebelias, adalah contoh yang menarik. Dalam buku ini, Febvre menunjukkan bagaimana alam pikiran manusia pada abad-16 demikian diresapi keyakinan religius, sehingga suatu atheisme konsekuen mustahil ada dalam iklim ini.Kaum Marxis, juga terpengaruh strukturalisme. Althusser, misalnya mengatakan bahwa individu hanyalah sub-ordinat dari system dan bekerja menurut system yang berlaku. Dengan demikian untuk melihat dominasi, kita tidak hanya harus melihat kepada setiap struktur yang berlaku formal. Justru struktur yang sebenarnya “bermain” pada setiap ruang, seperti ekonomi, politik, budaya, kepercayaan dan sebagainya. Jadi, struktur tidak harus dilihat sebagai suatu yang hegemonic, atau terlihat sebagai suatu kekuatan yang besar, seperti suatu kekuatan birokrasi politik.
Dengan demikian, kelebihan strukturalisme terletak dari cara pendekatan ini mengungkapkan sesuatu yang tak-terlihat, yaitu pada analisa prosesualnya. Strukturalisme juga jeli, dalam melihat lingkungan sebagai hal yang penting melahirkan suatu perubahan. Hasilnya, seorang sejarawan artinya juga harus menjadi atau setidaknya memahami teori-teori sosial.
Kelemahan Strukturalisme
Strukturalisme memiliki kelemahan sebagai berikut:
1. Struktur sosial yang sesungguhnya tidak sanggup membangun hubungan kausal yang sebenarnya sangat dominan dalam ilmu sejarah, tetapi hanya hubungan “quasi-causal”. Struktur sosial hanya ada bila “dibuat” oleh individu atau kelompok sosial. Dengan demikian struktur sosial sesungguhnya tidak bisa menjadi kausa dari tindakan individu atau kelompok sosial. Padahal menentukan kausalitas adalah tugas utama dari ilmu sejarah.
2. Sejarah structural tidak bersifat prosesual. Dalam hal ini yang dipelajari lebih menekankan struktur sosial yang amat panjang jangkauannya, bukan perubahan dari satu struktur sosial ke struktur sosial lainnya. Dengan demikian, kerja strukturalisme menjadi sesuatu yang spekulatif dan metafisik. Celakanya lagi, apabila kecenderungan ini terlalu dipaksakan, akan mengakibatkan pembunuhan terhadap fakta-fakta suatu peristiwa.
3. Strukturalisme melihat manusia sebagai obyek pasif, yang tidak berbuat apa-apa atau memiliki kreatifitas untuk berubah. Strukturalisme hanya beranggapan bahwa struktur adalah sesuatu yang baku. Padahal realitasnya banyak perubahan yang muncul justru karena manusia bersikap kreatif, yaitu ingin merombak struktur. Ketika sebuah struktur dianggap tidak lagi menguntungkan, maka muncul keinginan individu secara kolektif untuk merubah struktur, sehingga terjadilah perubahan. Dan strukturalisme tidak mampu menjawab penjelasan ini.
Referensi
Ankersmith, Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah, Jakarta: PT Gramedia, 1987.
Leirissa, R.Z. Metodelogi Sejarah, diktat kuliah (tidak diterbitkan).
Lloyd, Christopher. Explanation in Social History. London: Blackwell, 1987.
________________. The Struktures of History, London: Blackwell, 1993.
oleh RizQi D Fadzrina pada 11 Desember 2009 jam 15:48
Ilmu Sejarah adalah ilmu yang menggairahkan, karena ia mengajak manusia untuk memikirkan kembali keberadaannya, sambil bertamasya ke masa silam. Dengan belajar sejarah, kita akan meneruskan peradaban yang sudah ada, tidak memulai kehidupan dari titik nol. Tentu saja, bagi para sejarawan, gairah sejarah tidak hanya terletak sebatas ini. Sejarawan –sebagai orang yang “memproduksi” sejarah-, justru menjadi gairah ketika ia melakukan pencarian terhadap sebuah kebenaran peristiwa sejarah. Mendekati kebenaran bagi sejarawan, adalah sebuah keniscayaan -walaupun hal itu adalah sesuatu yang absurd. Hal ini disebabkan karena “kebenaran” yang ditulis sejarawan berhubungan dengan kenyataan sosial masyarakat. Dengan kata lain, sejarawan bertanggung jawab terhadap seluruh ingatan kolektif yang ada di masyarakat.
Sebagai langkah atau upaya mendekati kebenaran, terdapat proses dialog yang berlangsung antar sejarawan. Masing-masing sejarawan, memiliki cara atau pendekatan tersendiri, dalam menafsirkan kebenaran. Tentunya, hal ini bersandar pada argumentasi yang dapat dipertanggung-jawabkan.
Narativisme.
Berdasarkan istilah kebahasaan, narativisme berasal dari bahasa latin, narratio yang berarti cerita. Secara umum, jika mendengar kosa-kata ini, yang tergambar adalah kisah yang berlangsung antar penggalan episode satu ke episode lain, dengan eksplorasi alur kronologis yang tak boleh terputuskan. Hubungan antar episode, harus melahirkan seorang tokoh sentral atau tokoh besar. Karena sebuah cerita tak akan menarik, jika semua tokoh yang ada disama-ratakan. Tokoh harus dibuat secara bertingkat, terbatasi sekat-sekat status sosial, tingkat mitologi religiusitas dan sebagainya. Bahkan, Carlyle mengatakan “sejarah dunia ini adalah biografi orang besar.”
Secara umum, definisi narativisme dalam ilmu sejarah tidak jauh berbeda dari pengertian diatas. Namun demikian, berbeda dengan kisah biasa, narativisme dalam penceritaannya juga melalui tahap metode sejarah. Ranke mengatakan bahwa tugas sejarawan adalah menceritakan kebenaran suatu peristiwa apa adanya, dan kebenaran sejarah ada pada dokumen (istilahnya mengenai obyektifitas: “Wie es eigentlich gewesen”). Dengan demikian, sejarawan bertugas untuk menguraikan fakta dalam dokumen secara kronologis sebagai sebuah kesatuan cerita. Ankersmith mengatakan bahwa kisah yang baik mengenai suatu peristiwa adalah kisah yang banyak mengandung detail fakta-fakta. Kendati demikian, narativisme bukan hanya menafsirkan masa silam dan menyusun laporan secara kronologis. Narativisme juga ingin melukiskan sifat-sifat khas bagi suatu kurun tertentu (Ankersmith: 1987).
Dalam narativisme, Aktor memiliki kedudukan penting, karena sejarah berbicara mengenai tokoh, dan tokoh itu harus memiliki kategori yang menentukan perubahan. Sejarah tercipta, karena adanya individu/tokoh yang melakukan sesuatu, karena aktorlah perubahan tercipta. Narativisme akan mencontohkan, bahwa sukar untuk mendefinisikan terjadinya Perang Dunia II, seandainya Hittler tidak dilahirkan ke dunia. Jadi individualisme Hitler, adalah penting untuk menggambarkan terjadinya perang yang menghancurkan kemanusiaan tersebut.
Dengan demikian, kelebihan dari narativisme ialah detail-detail dalam cerita, dan juga mampu menunjukkan jalannya suatu peristiwa sebagai sebuah cerita yang berkaitan. Sebagai karya sastra, tulisan narativisme menjadi suatu kisah yang enak di baca. Apalagi didalamnya ada tokoh sentral dan pembantu, serta figuran. Narativisme juga menarik untuk membangkitkan daya imajinasi.
Kelemahan Narativisme
Narativisme memiliki kelemahan sebagai berikut:
1. Narativisme dianggap selalu berbicara mengenai orang besar, padahal sejarah juga mencakup hal-hal yang kecil. Individu dilihat sebagai makhluk yang kreatif dan mampu melakukan perubahan dengan sendirinya, padahal individu bukanlah sesuatu yang given. Individu muncul sebagai proses adaptasi terhadap ekologinya. Hitler, muncul dengan fasisnya harus dijelaskan dari sisi lain, bahwa saat itu Jerman dalam posisi terhinakan karena PD I. Dan untuk itu Hitler memerlukan kepercayaan diri bagi bangsanya, jalannya yaitu dengan praktek rasial.
2. Narativisme hanya menjelaskan sejarah atas dasar fakta yang ada pada dokumen. Padahal banyak kebenaran yang luput dituliskan, dan hal ini penting untuk menjelaskan suatu peristiwa. Dokumen juga memiliki banyak kelemahan, ketika ditulis, hal-hal yang ada dalam dokumen sudah melalui tahap seleksi. Karenanya, ia harus dipahami sebagai suatu karya yang disusun berdasarkan selera dan kepentingan penulisnya. Kemudian kelemahan lain dokumen, yaitu karena ia diproduksi oleh suatu institusi. Terdapat kecenderungan, bahwa institusi hanya akan menceritakan sesuatu yang baik bagi dirinya.
3. Narativisme menekankan pemahaman literal, artinya hanya menggunakan data dokumen sebagaimana adanya. Narativisme menekankan hubungan sebab-akibat, tanpa melihat alternatif pilihan yang lain. Tidak mencari “sesuatu” yang berada dibawah permukaan. Ketika bercerita mengenai perlawanan Pitung, narativisme hanya melihat apa dan bagaimana jalannya perlawanan. Tanpa mau melihat bahwa Perlawanan Pitung, muncul dari sisi mentalitas kaum betawi-santri, klas sosial dan faktor-faktor lainnya.
Strukturalisme
Istilah strukturalisme identik dengan Levi Strauss dan Annalles School. Tradisi ini muncul sebagai kritik terhadap pendekatan narativisme yang dianggap terlalu memanjakan aktor. Mazhab struktural menekankan bahwa seorang tokoh besar tidak lahir dan berkembang dalam ruang hampa, melainkan ia hadir dalam konteks struktur sosial tertentu. Mazhab struktural memaparkan bahwa struktur sosial dapat terbentuk karena pengaruh geografis. Singkatnya, seorang tokoh yang berperan dalam suatu peristiwa sejarah dipengaruhi secara dominan oleh determinan fisik. Contoh: seorang tokoh yang egaliter pada umumnya lahir di bentang alam pesisir dan seorang tokoh yang hierarkis pada umumnya lahir di bentang alam pedalaman atau pegunungan yang terisolasi.
Dalam strukturalisme yang ditekankan justru adalah struktur bukan manusia. Struktur membutuhkan elemen (individual/manusia), tetapi itu hanya sebagai bagian dari hukum atau aturan yang berlaku. Bagaimanapun, setiap tindakan individu pada hakekatnya dilandasi norma-norma yang berlaku pada masyarakatnya. Manusia tidak bisa menjadi individu, kecuali dalam lingkungan sosialnya.(Leirissa: 2002). Jadi sadar atau tidak, apa yang dilakukan manusia tidak bisa lepas dari struktur. Karenanya penjelasan teoritik dan analitik terhadap apa yang dilakukan harus diurai dalam konteks struktur. Untuk itulah seorang sejarawan hendaknya tidak hanya memahami fakta-fakta suatu peristiwa, melainkan juga harus memahami ilmu-ilmu bantu/teori-teori sosial untuk membedah sebuah struktur peristiwa.
Klaim kerja strukturalisme, mengatakan bahwa realitas harus dimaknai sebagai misteri yang harus dicari, karena ia hanyalah fenomena/tampakan. Dengan demikian sebuah realitas adalah suatu yang harus dilihat secara abstrak, dan dijelaskan sebagai sebuah fenomena. Levi Strauss, berpendapat bahwa struktur adalah konsep cara berfikir manusia yang elementer, dan karenanya bersifat universal. Untuk itu yang penting ialah bagaimana kita memahami cara berfikir simbolik pada manusia.
Menurut Lloyd (1987), strukturalisme diperkenalkan dalam berbagai bidang pengetahuan oleh beberapa tokoh ternama, seperti: Ferdinand Saussure dalam bidang linguistik, Emile Durkheim dalam sosiologi, Karl Marx pada bidang ekonomi-politik dan sejarah serta Sigmund Freud dalam bidang psikologi.
Dalam bidang psikologi atau juga mentalite, strukturalisme mendapat tempat pada pemikiran Annales School, yaitu Lucien Febvre, March Bloch, yang berlanjut pada Fernand Braudel. Bagi mereka pekerjaan sejarawan adalah meneliti lingkungan sosial yang menjadi bekal mentalnya, bukan pada hubungan antar individu an sich. Buku karangan Febvre mengenai religiusitas seorang pengarang perancis abad ke-16, Rebelias, adalah contoh yang menarik. Dalam buku ini, Febvre menunjukkan bagaimana alam pikiran manusia pada abad-16 demikian diresapi keyakinan religius, sehingga suatu atheisme konsekuen mustahil ada dalam iklim ini.Kaum Marxis, juga terpengaruh strukturalisme. Althusser, misalnya mengatakan bahwa individu hanyalah sub-ordinat dari system dan bekerja menurut system yang berlaku. Dengan demikian untuk melihat dominasi, kita tidak hanya harus melihat kepada setiap struktur yang berlaku formal. Justru struktur yang sebenarnya “bermain” pada setiap ruang, seperti ekonomi, politik, budaya, kepercayaan dan sebagainya. Jadi, struktur tidak harus dilihat sebagai suatu yang hegemonic, atau terlihat sebagai suatu kekuatan yang besar, seperti suatu kekuatan birokrasi politik.
Dengan demikian, kelebihan strukturalisme terletak dari cara pendekatan ini mengungkapkan sesuatu yang tak-terlihat, yaitu pada analisa prosesualnya. Strukturalisme juga jeli, dalam melihat lingkungan sebagai hal yang penting melahirkan suatu perubahan. Hasilnya, seorang sejarawan artinya juga harus menjadi atau setidaknya memahami teori-teori sosial.
Kelemahan Strukturalisme
Strukturalisme memiliki kelemahan sebagai berikut:
1. Struktur sosial yang sesungguhnya tidak sanggup membangun hubungan kausal yang sebenarnya sangat dominan dalam ilmu sejarah, tetapi hanya hubungan “quasi-causal”. Struktur sosial hanya ada bila “dibuat” oleh individu atau kelompok sosial. Dengan demikian struktur sosial sesungguhnya tidak bisa menjadi kausa dari tindakan individu atau kelompok sosial. Padahal menentukan kausalitas adalah tugas utama dari ilmu sejarah.
2. Sejarah structural tidak bersifat prosesual. Dalam hal ini yang dipelajari lebih menekankan struktur sosial yang amat panjang jangkauannya, bukan perubahan dari satu struktur sosial ke struktur sosial lainnya. Dengan demikian, kerja strukturalisme menjadi sesuatu yang spekulatif dan metafisik. Celakanya lagi, apabila kecenderungan ini terlalu dipaksakan, akan mengakibatkan pembunuhan terhadap fakta-fakta suatu peristiwa.
3. Strukturalisme melihat manusia sebagai obyek pasif, yang tidak berbuat apa-apa atau memiliki kreatifitas untuk berubah. Strukturalisme hanya beranggapan bahwa struktur adalah sesuatu yang baku. Padahal realitasnya banyak perubahan yang muncul justru karena manusia bersikap kreatif, yaitu ingin merombak struktur. Ketika sebuah struktur dianggap tidak lagi menguntungkan, maka muncul keinginan individu secara kolektif untuk merubah struktur, sehingga terjadilah perubahan. Dan strukturalisme tidak mampu menjawab penjelasan ini.
Referensi
Ankersmith, Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah, Jakarta: PT Gramedia, 1987.
Leirissa, R.Z. Metodelogi Sejarah, diktat kuliah (tidak diterbitkan).
Lloyd, Christopher. Explanation in Social History. London: Blackwell, 1987.
________________. The Struktures of History, London: Blackwell, 1993.
oleh RizQi D Fadzrina pada 11 Desember 2009 jam 15:48
"sekedar renungan"
kita harus mengenang org yg paling berjasa dalam hidup ini
yg kian hari kian kerut di wajahnya kian banyak dan kian hari kian tua
sembilan bulan kita menhisap darahnya di dalam perut mual,makan sulit,muntah setiap waktu
tetapi tetap tersenyum karena bahagia di perutnya telah hadir diri kita
sembilan bulan berdiri sulit berjalan berat berbaring sakit
tapi tetap tersenyum dan membelai karena menyangka akan lahir anak yg shaleh dan memuliakannya.
ayah kita banting tulang peras keringat mencari nafkah agar kita menjadi janin yg sehat.
saat kita terlahir kedunia ibu mengerang sakit tiada terperi,berjuang antara hidup dan mati.
jika kita terlahir bersimbah darah,berderai air mata,berkuah keringat ,sakit tiada tara.
tapi ibu tetap tersenyum di bawah lelehan air mata bahagia menatap kita
dihitungnya satu persatu jari kita didekap dan dikecupnya mungkin ibu menyangka bahwa kita anak yg tau balas budi sementara bapak kita berhutang kiri kanan agar kita bisa selamat.
waktu kita bayi kitalah yg mengencingi wajah dan mengotori tubuhnya
siang malam menunggui kita apalagi ketika kita sakit hampir tak tidur semalaman
tak rela seekor nyamukpun menggigit diri kita.mungkin ibu menyangka bahwa kita akan menjadi anak yg bisa membahagiakannya
semakin besar kita semakin merepotkan
waktu akan bersekolah ibu bapak pontang panting mencari hutang agar kita punya sepatu ,buku tas dan seragan seperti yg org lain,walaupun mereka harus mengurangi makan ataw menjual pakaiannya.agar kita tetap bersekolah,benar2 menguras tenaga ,harta dan pikirannya dan mungkin orang tua kita jadi berlumur dosa karena ingin kita tetap bersekolah.
semakin besar mata kita semakin melotot daripada menatap kasih sayang
semakin besar kata2 kita lebih banyak mengiris hati daripada memuliakannya
pintu kita banting ,terkadang kita menganggap org tua kita sekedar pembantu terkadang kita menghinanya ..apa yg kita lalukan pada keduanya ...air susu dibalas dgn air tuba,betapa jarangnya kita menyapa org tua kita dgn lembut dan kasih sayang...betapa jarangnya air mata ini meleleh mendo'akan keduanya.
padahal siapa tau tdk lama lagi keduanya akan pulang kepada ALLAH...
andaikata tubuhnya sudah terbujur kaku ajal sudah tiba,kita tdk lg mendengar suaranya
andaikata kedua org tua kita sudah dibungkus kain kafan,kita tdk akan lg bisa melihat wajahnya dan tidak lagi bisa mencium tangannya
andaikata ibu bapak kita sudah ada diliang lahat,hanya tinggalannya yg bisa kita sentuh,kamarnya sudah kosong hanya tinggal pakaiannya....sampai kapankah kita akan menyakiti org tua kita!!
tega kah kita melihat ibu bapak kita disiksa di alam kubur,menolong nolong menanti do'a anaknya padahal anaknya durhaka tidak pernah sampai do'a.
tega kah kita melihat orang tua kita terbenam di dalam api jahanam ,terurai ususnya meletus kepalanya padahal anaknya di berikan kemampuan untuk menjadi jalan keselamatan klau kita shaleh.
YA ALLAH...wahai yg maha mendengar ampuni kedurhakaan kami kepada ibu bapak kami.
YA ALLAH...ampuni jikalau selama ini kami jarang membahagiakannya
YA ALLAH ...ampuni jikalau kata2 kami sering melukai hatinya
YA ALLAH...ampuni jikalau kami sering mendzalimi dan menyengsarakannya
selamatkan org tua kami YA ALLAH dan ampuni dosa2nya,muliakan sisa umurnya dan jadikan akhir hayatnya husnul khatimah....amiiin....!!!
yg kian hari kian kerut di wajahnya kian banyak dan kian hari kian tua
sembilan bulan kita menhisap darahnya di dalam perut mual,makan sulit,muntah setiap waktu
tetapi tetap tersenyum karena bahagia di perutnya telah hadir diri kita
sembilan bulan berdiri sulit berjalan berat berbaring sakit
tapi tetap tersenyum dan membelai karena menyangka akan lahir anak yg shaleh dan memuliakannya.
ayah kita banting tulang peras keringat mencari nafkah agar kita menjadi janin yg sehat.
saat kita terlahir kedunia ibu mengerang sakit tiada terperi,berjuang antara hidup dan mati.
jika kita terlahir bersimbah darah,berderai air mata,berkuah keringat ,sakit tiada tara.
tapi ibu tetap tersenyum di bawah lelehan air mata bahagia menatap kita
dihitungnya satu persatu jari kita didekap dan dikecupnya mungkin ibu menyangka bahwa kita anak yg tau balas budi sementara bapak kita berhutang kiri kanan agar kita bisa selamat.
waktu kita bayi kitalah yg mengencingi wajah dan mengotori tubuhnya
siang malam menunggui kita apalagi ketika kita sakit hampir tak tidur semalaman
tak rela seekor nyamukpun menggigit diri kita.mungkin ibu menyangka bahwa kita akan menjadi anak yg bisa membahagiakannya
semakin besar kita semakin merepotkan
waktu akan bersekolah ibu bapak pontang panting mencari hutang agar kita punya sepatu ,buku tas dan seragan seperti yg org lain,walaupun mereka harus mengurangi makan ataw menjual pakaiannya.agar kita tetap bersekolah,benar2 menguras tenaga ,harta dan pikirannya dan mungkin orang tua kita jadi berlumur dosa karena ingin kita tetap bersekolah.
semakin besar mata kita semakin melotot daripada menatap kasih sayang
semakin besar kata2 kita lebih banyak mengiris hati daripada memuliakannya
pintu kita banting ,terkadang kita menganggap org tua kita sekedar pembantu terkadang kita menghinanya ..apa yg kita lalukan pada keduanya ...air susu dibalas dgn air tuba,betapa jarangnya kita menyapa org tua kita dgn lembut dan kasih sayang...betapa jarangnya air mata ini meleleh mendo'akan keduanya.
padahal siapa tau tdk lama lagi keduanya akan pulang kepada ALLAH...
andaikata tubuhnya sudah terbujur kaku ajal sudah tiba,kita tdk lg mendengar suaranya
andaikata kedua org tua kita sudah dibungkus kain kafan,kita tdk akan lg bisa melihat wajahnya dan tidak lagi bisa mencium tangannya
andaikata ibu bapak kita sudah ada diliang lahat,hanya tinggalannya yg bisa kita sentuh,kamarnya sudah kosong hanya tinggal pakaiannya....sampai kapankah kita akan menyakiti org tua kita!!
tega kah kita melihat ibu bapak kita disiksa di alam kubur,menolong nolong menanti do'a anaknya padahal anaknya durhaka tidak pernah sampai do'a.
tega kah kita melihat orang tua kita terbenam di dalam api jahanam ,terurai ususnya meletus kepalanya padahal anaknya di berikan kemampuan untuk menjadi jalan keselamatan klau kita shaleh.
YA ALLAH...wahai yg maha mendengar ampuni kedurhakaan kami kepada ibu bapak kami.
YA ALLAH...ampuni jikalau selama ini kami jarang membahagiakannya
YA ALLAH ...ampuni jikalau kata2 kami sering melukai hatinya
YA ALLAH...ampuni jikalau kami sering mendzalimi dan menyengsarakannya
selamatkan org tua kami YA ALLAH dan ampuni dosa2nya,muliakan sisa umurnya dan jadikan akhir hayatnya husnul khatimah....amiiin....!!!
Langganan:
Postingan (Atom)